16.10.15

Melampaui bela negara, jalan lain nation building

Program bela negara kementerian pertahanan jelas bertujuan ideologis daripada praktis. Ia adalah senjata bermatra ganda : meneguhkan kembali kebangsaan pada tingkat metanarasi sebagai pengunci pertahanan nasional di lapis psikologis rakyat setelah bertahun-tahun lamanya keindonesiaan terabaikan bahkan terinjak-injak; kedua, dalam efek negatif terbukanya peluang manipulasi imaji kebangsaan oleh kekuasaan, yang membangun kembali peluang kontrol oleh paradigma keamanan terhadap masyarakat. Dan persis di ranah inilah suara minor bergema mengkritisi rencana kementerian pertahanan tersebut.

momentum politik negara integralistik
Upaya untuk menguasai kembali imaji hidup bersama inilah yang mendapat penentangan kuat dari sebagian besar kalangan, khususnya aktivis gerakan sosial yang melihat ancaman menguatnya kembali militer dan negara vis a vis rakyatnya. Terlebih ia secara lebar membuka ancaman pelemahan lebih jauh rakyat vis a vis negara (dan pasar), yang notabene sangat terasa di tengah kelumpuhan gerakan hak-hak asasi manusia di Indonesia pasca 1998.
Di sisi lain, kementerian pertahanan cukup sabar menantikan kematangan (atau kelelahan?) masyarakat untuk menerima kembali gagasan negara kuat. Gagasan negara kuat sendiri Bela negara diandaikan menjadi prakondisi lahirnya kembali keindonesiaan yang selama ini terpinggirkan oleh fundamentalisme religius dan fundamentalisme budaya Barat. Fundamentalisme modal sendiri jelas dipandang secara ambigu di antara para pendukung gagasan negara kuat. Ada keretakan antara nasionalis romantis yang lebih mendukung nasionalisme ekonomi daripada pengusaha pendukung integrasi total pasar bebas.

25.12.14

11 Juni 2011



Aku melihat seorang gelandangan dengan tubuh sangat kurus di pinggir jalan Cik Di Tiro, utara Gramedia. Aku melewatinya, tapi aku gelisah dan mengeceknya. Dia masih bernafas. Aku mampir mencari minuman dan roti di warung di dekatnya. Tidak ada roti. Aku membeli air kemasan dan meletakkan di sampingnya.
Aku masuk dan membaca buku di Gramedia. Sebuah buku besar jatuh berdebum di belakangku. Aku melirik. Aku diam saja. Ada seorang pemuda mencari buku, melihat buku jatuh itu, dan ia diam saja. Seorang perempuan sedikit lebih tua, melakukan hal yang sama. Satu jam lebih buku itu di sana. Aku tetap membaca tak jauh dari situ. Sekali-kali melirik ke buku itu. Beberapa orang yang lain datang dan mengulangi hal yang sama. Aku  melihat jamku. Waktuku kembali ke rumah. Aku meletakkan buku yang aku baca kembali ke tempatnya. Aku memungut buku itu dan mengembalikan pada tempatnya.
Aku di shelter trans Jogja, ada seorang pemuda salah turun. Dia bertanya pada penjaga shelter, yang juga tidak tahu tempat itu. Aku yang duduk di dekatnya berdiri dan memberi tahu, nanti di shelter dekat kali Code mas.” Dia tersenyum dan berterimakasih. Dia duduk di bangku yang semula aku duduki.
Menjelang perempatan Kantor Pos Besar, ada seorang bapak naik dengan menggendong anaknya. Tidak jauh dariku. Tetapi bis penuh. Aku diam saja, dengan alasan bis terlalu penuh. Di shelter depannya banyak penumpang turun, bapak dan anak itu berjalan ke begian belakang bis. Sepertinya mereka mendapat tempat duduk.
Aku pulang berjalan menuju rumah. Beberapa anak kecil bermain dengan sepedanya. “Tapi jangan melindas kadalnya ya” Kata salah seorang gadis mungil di situ.”Kadal yang mana?” lalu mereka merubungi kadal di tengah jalan. Aku melewatinya, kadal itu setengah mati terlindas kendaraan, isi perutnya keluar tetapi ekor dan kepalanya masih bergerak-gerak.
Kalau aku punya anak nanti, persetan dengan les sekolah, kursus komputer, Bahasa Inggris, dan musik. Aku akan mencari kursus yang bisa mengajari anak-anakku untuk gelisah tentang kadal itu.


Ibu : sebuah pagi di negeri hujan




Pagi hari terang di langit, tapi gerimis terus saja. Gerimis adalah legenda, kini legenda itu menghampiri jendela kamarku. Di situ di tanah coklat di bawah jendela, cekungan-cekungan kecil oleh tetes-tetes hujan, menyisakan batu dan kerikil, sepotong rumput bergoyang di genang air. Di cekungan-cekungan itulah dulu kakek nenek kami biasa membuang botol-botol dengan menanamnya terbalik untuk menjaga dan merawat tanah. Kini botol lebih berharga daripada tanah. Urusan perut tentu tak bisa dikalahkan.

Atma namaku. Jiwa yang berkelana. yang gelisah oleh desaku yang beranjak mengkota, dan kota terlalu asing bagi manusia. Menatap hujan yang semakin jauh dari kanak-kanak. Merenungkan kanak-kanak yang kehilangan kesempatan merayakan hidup di bawah derai-derai hujan. Merenungkan para orang tua yang terlalu takut anak-anaknya berhujan-hujan dan belajar langsung pada sang alam. Merenungkan kemanusiaan yang menyerahkan kesatuannya pada alam ke tangan para ilmuwan demi “kesehatan dan pola hidup yang aman bagi manusia”. Lupa bahwa bahaya terbesar bagi alam dan  manusia adalah manusia itu sendiri.
Demikianlah aku Atma, jiwa yang selalu bertanya. Dan selalu di saat-saat seperti itu Sang Hidup punya cara lain bersapa dengan jiwaku.

Pagi ini di bawah gerimis yang membasuh bumi, aku enggan berdoa Rosario lagi, seperti yang selalu dinasihatkan ibuku. Tapi tiba-tiba ibuku berdiri di depan pintu, tersenyum, lalu mengulurkan teh hangat padaku. Ibuku berkata, “Sudah bangun, Ngger ?” Pada senyumnya, pada asihnya aku tak kuasa. Dan itulah mengapa aku berdoa Rosario tiap pagi, meski aku tak begitu menyukainya. Dan tentu satu yang kuminta, kelanggengan kasih itu, yang menyapaku dengan sapaan hangat yang sama tiap kali pagi tiba : “Sudah bangun, Ngger ?”

Begitulah Sang Hidup selalu punya cara merawat jiwaku, ketika ia gelisah akan hal-hal besar, ketika ia menatap sejarah dan merasa terkerdilkan. Ibu. Segelas teh hangat dan senyum itu, lebih dari cukup untuk memperbaharui peradaban.

21.12.14

Gigirpasang



“Nanti sampah plastiknya dibawa pulang ya mas.” Kang Sakir sekali lagi mewanti-wanti kami untuk tidak meninggalkan sampah plastik di sekumpulan rumah di daerah Deles, Klaten, Jawa Tengah itu. Tentu, saja pemukiman yang terdiri dari 7 rumah dengan 33 jiwa itu terlalu kecil untuk disebut dusun. Gigirpasang namanya, sebuah pemukiman kecil yang menantang untuk dicapai. Tidak ada jalur sepeda motor ke sana. ya, kamu harus menyusuri anak tangga selama 45 menit untuk sampai ke gerbang pemukiman. Benar, kampung kecil itu hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki melalui rute yang menantang : selepas jalan desa engkau akan melewati jalan setapak, diikuti dengan jalan menurun yang berbelok-belok menuruni jurang di lereng tenggara Merapi tersebut, menyeberangi lembah sempit, jalan akan berubah terjal dan engkau harus menyusuri ratusan anak tangga batu dan semen yang untuk mencapainya.
Sebuah pemandangan menakjubkan yang selama ini barangkali hanya kamu lihat dalam film kungfu terpapar di depanmu : anak tangga yang sangat tinggi, dengan sebuah gerbang di atas bukit sana menantimu. Itulah Kampung Gigirpasang. Kampung yang terdiri dari satu keluarga besar yang membangun budaya unik khas milik brayat Gigirpasang.
Tak sepotong sampah plastikpun boleh ditinggalkan para tamu. Alam adalah suci dan kehormatannya tak boleh dicemari. Jangan pernah pula membawa makanan-makanan instan ke kampung itu, dengan santun mereka akan menolak kehadirannya. Dan setiap kali mereka akan menebang pohon untuk mendirikan rumah atau gawe keluarga, mereka wajib terlebih dahulu menanam pohon penggantinya. Tidak untuk generasi mereka, tetapi bagi anak-anak dan cucu mereka kelak, persis sebagaimana dulu kakek dan nenek mereka menanam pohon sebagai warisan hidup bagi generasi-generasi sesudahnya.
Gigirpasang adalah spirit yang hidup menjadi tradisi. Tanpa proposal atau naskah akademik, ia adalah keutamaan yang tertanam jauh sebelum gelisah modernitas menemukan kata-kata dan perjuangannya. Penghormatan pada bumi yang mengendap menjadi refleks dan insting hidup keseharian. Dan hati kita takjub penuh hormat padanya.

Kelimutu #1



Duduk bersila menatap Tiwu Nuwa Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo di ketinggian Tugu Sukarno, sebuah suara berkata kepadaku :
“Ketika engkau menapakkan kakimu ke anak-anak tangga menuju ketinggian ini, engkau tahu engkau menapak lebih dalam ke dalam hatimu sendiri. Waktu engkau memutuskan perjalananmu sebagai petualangan, engkau tahu engkau membuka dirimu bagi semua kemungkinan.
Menjelajahlah ke tempat yang belum pernah kamu jelajahi, pergilah ke tempat-tempat yang bahkan tak bisa kamu bayangkan, bebaskanlah dirimu dari semua imajinasi yang pernah kamu miliki, keluarlah dari dunia yang masih bisa kau kira-kira isinya, dan dengan itu engkau menghadapkan diri pada dirimu sendiri : batas-batas, ketakutan, keberanian, dan kapasitasmu sendiri. Tidak ada orang lain, tidak ada yang kau kenal, yang ada hanya kau dan dirimu sendiri.
Mungkin engkau merasa siap, tetapi kini engkau tahu engkau tak siap. Sejatinya engkau tidak pernah siap. Kesiapanmu hanya ada ketika engkau mampu memperkirakan sesuatu. Kini, tiba-tiba saja engkau kehilangan petunjuk dan batu-batu penanda kalkulasi dan imajinasimu. Engkau tak pernah tahu dunia dan peristiwa apa yang akan datang menjumpaimu.
Dan disitulah kau tahu ukuran-ukuranmu, latihan-latihan hidup yang telah kau lalui, kekosongan akibat pelajaran yang terlewatkan, kelemahan dan kekuatanmu sendiri. Mungkin, tiba-tiba engkau menggugat dirimu sendiri, merasa harus membenci dirimu sendiri atas ketidaktuntasan menyiapkan hidup. Engkau merasa malu, tetapi engkau sudah terlambat.
Sesaat engkau merasa hidup telah direnggut daripadamu , tetapi tiba-tiba engkau sadar, sejatinya engkau tak pernah memiliki hidup itu, engkau hanya diperkenankan mengisi pikiranmu dengan benda-benda, sosok manusia, dan peristiwa yang sejatinya sama sekali bukan milikmu.
Lalu tinggallah kini dirimu dan dunia tanpa batas yang terbentang di hadapanmu : engkau tahu tidak ada jalan mundur kecuali engkau menjadi pengecut. Yang ada hanyalah maju, berdiam diri berarti mati.
Yang tersisa hanyalah ini : lentera hatimu sendiri, keberanianmu, latihan-latihan yang telah engkau jalani, serta saudara-saudara jiwa yang kau temui sepanjang perjalanan.


Sibolga, pada sebuah muara




Pada sebuah muara di kota Sibolga, seorang lelaki membawa cangkulnya.
Angin senja bertiup memainkan ombak. Seorang ibu menggendong bayinya, sementara beberapa kanak berlarian di pantai. Beberapa tonggak beton penambat kapal nelayan bergulingan terpukul ombak.
Kota yang berbukit telah mengantar air ke muka pantai.  Muara adalah pertemuan antara aliran hidup yang membasuh kota dan keluasan laut yang menjadi tujuan dan hasrat semua air di bumi. Di muara sungai itu mereka bertemu. Di tepi sungai itu mereka seharusnya bertemu.
Tetapi hari itu, sebagaimana berulangkali terjadi sepanjang tahun,  air itu tidak mengalir menjumpai lautan, Ia terhenti oleh sumbatan pasir yang dihempas oleh ombak. Laut memang penuh misteri dan memiliki jiwanya sendiri : ia adalah puncak pencapaian perjuangan hasrat-hasrat sang air, tetapi pada suatu saat yang lain, ia bisa memukul balik dan menghancurkan segalanya.
Di arus sungai yang sangat tenang di muara yang datar, apalagi di musim kemarau panjang, pasir dengan mudah menutup jalan air nyaris tanpa perlawanan. Ketika gundukan pasir itu terlalu tinggi, air sungai di muara bisa meluap membanjiri perkampungan nelayan. Ketika air meluap, ia melupa kemana ia seharusnya mengalir. Lalu muara kehilangan wajahnya dan air kehilangan keteraturannya.
Di saat itulah dibutuhkan lelaki itu.
Lelaki itu mengayunkan cangkulnya ke gundukan pasir. Ia membuat selokan kecil di atas sumbatan muara. Dengan cangkulnya ia menyatukan air yang terbendung dengan luasnya lautan. Tak perlu ia membuat saluran yang terlalu lebar : kerinduan air yang terbendung itu akan membuka jalannya sendiri.
Perlahan arus air mengikis gundukan itu. Pertama-tama agak perlahan, tetapi seiring semakin luas dan dalamnya selokan, arus pun semakin cepat dan membesar. Dan sungai pun kembali dipulihkan.
Sibolga, pada sebuah senja di muara. Lampu-lampu kota yang mulai menyala dan bintang-bintang di atas Sibolga berkerlipan dengan anggunnya.